Senin, 09 Desember 2013

Asaku dukamu




Pagi indah datang dan pergi
Hilang diri harga mati
Engkau raksasa tak mau berjudi
Aku tersenyum namun sakit dalam hati

Senyummu duka bagiku
Mulutmu harimau yang terus berlalu
Lidah tak suka namun mulut  terkunci pilu
Biar duka beradu penuh syahdu

Arogan dan tindakan tak mau padu
Hidupmu bagai jeruji besi tak bertalu

Kau lesu
Kau pasti tahu


Ekspedisi Lintas Batas #1




Ray
Hari gelap gulita, rintik-rintik mengguyur sepanjang jalan yang kadang aspal kadang berlumpur itu. Dua buah sepeda motor nampak melaju dengan kecepatan sedang-sedang saja. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Justru yang istimewa karena kedua motor tersebut melaju saja menerobos hujan, padahal di dalam jok motor masing-masing ada mantel.
Ya itu sekelumit kisah tiga orang pemuda yang gagah dan berani. Mereka bertiga Jum, Ray dan Bas. Mereka berencana mencari kesenangan berupa jalan-jalan menuju tempat tempat yang tak bertepi. Sebenarnya sih tanpa tujuan. Namanya juga pemuda ya wajar saja menghabiskan waktu dengan hal yang tak menentu. Mereka menamakan perjalanan tersebut dengan nama ekspedisi lintas batas. Kerenkan. Banyak kegilaan. Ya mungkin karena mereka benar-benar gila.
“Woii beteduh di warung tepi jalan!” teriak Ray memecah kesunyian hujan.
“Baiklah” ujar Jum dan Bas.
Mereka pun berteduh sejenak.
Sementara masih senyap karena kedinginan.
“Kita kehujanan di tengah jalan” gumam Ray.
“Kalo begitu kita lewat tepi jalan saja” seloroh Jum.
Hahahaa
Kembali senyap.
Beberapa menit kemudian hujan masih melanda. Bahkan semakin deras. Tidak menunjukan akan reda.
Capek deh.
“Pakai mantel jak yok, ndak bakalan berenti hujan nih!”, sahut Jum dengan gagah berani.
“Ayoklah”, Ray dengan tak kalah gagahnya.
Dan mereka melanjutkan perjalanan dengan mantel.
Baru menempuh perjalanan sekitar satu kilometer hujanpun reda.
Yah.
Mereka berhenti, melipat kembali mantel dan melanjutkan perjalanan.
Tidak kurang satu kilometer kemudian hujan datang lagi.
Aah kampret!
“Hai hujan kita putus!”, teriak Bas dengan gayanya yang cool.
Hujan terdiam. Ray dan Jum terdiam.
Hujan menangis. Ray dan Jum menangis.
Hujan teberak. Ray dan Jum juga teberak.
Aneh.
Bas
Ya itulah Bas. Orangnya pendiam namun selalu saja ada lelucon yang dibuatnya. Lain lagi Ray. Si Ray ini sebenarnya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang skripsian. Satu di antara sifat Ray yaitu mudah mengiya-iyakan ajakan teman-temannya. Misalkan lagi antri bimbingan dengan dosen, kemudian tiba-tiba ada teman yang mengajak ke kantin. Ya dia iyakan dan kemudian ke kantin padahal antri bimbingannya sudah hampir satu jam. Atau lagi serius garap skripsian, tiba-tiba ada teman yang mengajak main game (baca PES) dia iyakan juga padahal deadlinenya besok hari. Sungguh manusia aneh tapi tetap mengasyikan. Dan sekarang pun sebenarnya lagi bimbingan di kampusnya, namun tetap ikut pergi entah kemana dan tanpa tujuan yang jelas.
Jum
Lain lagi Jum. Seorang virgo kolosal. Apaan? Ya intinya virgo. Orangnya terlihat dewasa. Penuh kewibawaan. Dalam hal bercinta tidak ada duanya. Dua kali diputuskan pacarnya. Tipe setia dan pejuang cinta. Ada kisah Si Jum sampai menabrak bak mobil saking semangat dalam mengejar kekasihnya. Mengidap penyakit tiphues akut level 4. Kemana-mana harus membawa pil anti tiphues. Kasian kamu nak nak. Dan ada kecurigaan dalam benak Bas kenapa sampai Jum mengajak melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan ini. Jum sedang putus cinta. Oh jadi itu awal dari ekspedisi lintas batas ini.
Maybe yes, maybe no.


Bersambung ...

Jumat, 06 Desember 2013

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME


Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Ciri dari teori belajar behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Dalam hal konsep pembelajaran, proses cenderung pasif berkenaan dengan teori behavioris. Pelajar menggunakan tingkat keterampilan pengolahan rendah untuk memahami materi dan material sering terisolasi dari konteks dunia nyata atau situasi. Little tanggung jawab ditempatkan pada pembelajar mengenai pendidikannya sendiri.
Ada beberapa tokoh teori belajar behaviorisme. Tokoh-tokoh aliran behavioristik tersebut antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.elajar Behaviorisme
1. Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
2. Teori Belajar Menurut Watson
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
3. Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
4.  Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).
5. Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebihkomprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behaviorisme ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.



Senin, 11 November 2013

TEKNIK PENGELOLAAN KELAS


TEKNIK PENGELOLAAN KELAS 


A. Pengertian Pengelolaan Kelas 
Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolaan kelas maksudnya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondosif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran yang efektif dan efisien. Pengelolaan kelas penting untuk diketahui oleh siapapun juga yang menunjukkan dirinya ke dalam dunia pendidikan, maka penting untuk mengetahui pengertian pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas terbagi dua kata yaitu: pengelolaan dan kelas, pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola” ditambah awalan pe- dan akhiran an-. Istilah lain pengelolaan adalah “menejemen” yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan. Sedangkan “kelas” menurut Oemar Namanik (1987:311) adalah : suatu kelompok orang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru, menurut Suharsimi Arikunto (1988:17) pengertian umum “kelas” adalah sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.
B. Pengertian Teknik Pengelolaan Kelas 
Teknik-teknik pengelolaan kelas dapat digolongkan ke dalam teknik preventif dan teknik kuratif. Teknik preventif adalah teknik untuk mencegah timbulnya tingkah laku siswa yang mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Sedangkan teknik kuratif adalah teknik untuk mengurangi tingkah laku siswa yang mengganggu kegiatan kegiatan belajar mengajar. Teknik-teknik tersebut sekaligus merupakan komponen-komponen keterampilan mengelola kelas sebagai berikut.
1. Teknik Preventif
Yang dapat digolongkan ke dalam teknik preventif adalah : 1) Sikap terbuka. 2) Sikap menerima dan menghargai. 3) Sikap empati. 4) Sikap demokratis. 5) Mengarahkan siswa pada tujuan kelompok. 6) Menghasilkan antara kelempok yang disepakati siswa. 7) Mengusahakan siswa. 8) Memperjelas komunikasi. 9) Menunjukkan kehadiran. 
2. Teknik Kuratif 
Yang dapat digolongkan ke dalam teknik kuratif : 1) Penguatan negatif. 2) Penghapusan. 3) Hukuman. 4) Membicarakan. 5) Bersikap masa bodoh terhadap pembelajaran. 6) Memberikan tugas yang bernilai menunjukkan tongkah laku yang menguasai. 7) Memberikan tugas yang memerlukan keberanian siswa menunjukkan tingkah laku menguasai. 8) Memberikan tugas yang menuntut kekuatan fisik bagi siswa yang menunjukkan menguasai. 9) Tidak menyalahkan siswa secara langsung menunjukkan segi-segi keberhasikan ( bagi siswa yang menunjukkan tingkah laku ketidak mampuan. 10) Tidak memberikan respon ekspresi wajah tetap bagi siswa yang menunjukkan tingkah laku membalas mendendam. 11) Mendorong partisipasi. 12) Memeratakan partisipasi. 13) Mengurangi ketegangan. 14) Mengatasi pertentangan antar pribadi atau antar kelompak.
C. Tujuan Pengelolaan Kelas 
Pengelolaan kelas yang dilakukan guru bukan tanpa tujuan, karena ada tujuan itulah guru selalu berusaha mengelola kelas walaupun terkadang kelelahan fisik maupun fikiran dirasakan. Guru sadar tanpa mengelola kelas yang baik maka akan menghambat kegiatan belajar mengajarnya, itu sama saja membiarkan jalannya pengajaran tanpa memmembuka hasil yaitu mengantarkan anak didik dari tidak berilmu menjadi berilmu. Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan, secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah : “Penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas, fasilitas yang ddisediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.” Menurut Suharsimi Arikunto (1988:68) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

Sabtu, 09 November 2013

Puisi Malamku

Secercah Asa pada Secarik Rasa












Aku pinta namun tak kuasa
Beribu bahasa namun kau tak mengerti jua
Ini rasa hilang di pendam masa
Maafkan aku cinta

Aku pinta namun kau tak peka
Haruskahku menyerah pada asa
Asa yang terluka ketika cinta tak seindah surga
Maafkan aku cinta

Terlihat mata mu ada yang tersembunyi di sana
Mulut mu berbisa dan tatapanmu terpancar beda
Engkau pemusnah asa aku tak suka
Maafkan aku cinta








Rabu, 23 Oktober 2013

Alun-alun Kapuas (Lapangan Korem) Pontianak


Alun-Alun Kapuas (Lapangan Korem) Pontianak

Pontianak, pukul 15.30 WIB keadaan sudah mulai ramai. Tidak jauh dari Kantor Wali Kota Pontianak terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Alun-alun Kapuas atau korem merupakan tempat yang banyak dikunjungi oleh semua masyarakat Kota Pontianak. Yang mengunjungi tempat ini pun bukan hanya para remaja, tetapi mulai dari anak-anak, bahkan orang tua pun tak segan untuk berkunjung ke tempat ini.
Terlihat replika (miniatur) tugu khatulistiwa
Pada siang hari memang tempat ini biasa-biasa saja, namun keadaan sangat berubah jika di malam hari. Apalagi malam minggu, banyak sekali masyarakat yang mengunjungi tempat ini. Dari pengamatan penulis pada malam minggu mulai pukul 19.00 WIB sudah banyak kendaraaan, bahkan dikatakan parkiran sudah hampir penuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Artinya, masyarakat datang ke tempat ini dengan sangat antusias. Mereka berbondong-bondong untuk jalan-jalan, menikmati malam, dan sekedar bercanda ria di tempat yang sering juga disebut korem ini.


Pemandangan korem di malam hari
Pemandangan di korem atau masyarakat Kota Pontianak juga menyebutnya Alun-alun Kapuas memang cukup menarik, apalagi di malam hari. Pemerintah Kota Pontianak telah membuat sebuah air pancur yang cukup besar untuk memperindah tempat ini. Untuk sekedar melepas lelah dan penat, Pemkot juga telah menyediakan tempat-tempat tertentu untuk dijadikan tempat berjualan bagi pedagang-pedangan kaki lima yang menjual aneka minuman dan makanan ringan, bahkan ada juga penjual kaki lima lainnya yang menjual pakaian dan asesoris dan mainan anak-anak. Yang tak kalah menarik yaitu pemandangan dengan adanya taman bermain bagi anak-anak. Kebun bunga juga ikut memperindah Alun-alun Kapuas. Sehingga pada saat berkunjung ke tempat ini tidak ada kata “bosan”, malah mengasyikkan.

Senin, 21 Oktober 2013

Masa Lalu Di Lirik Sebuah Lagu


       Terangnya seribu bintang takkan sanggup menyinari hatiku
       Yang kuinginkan hanya dirimu cinta sejatiku
       Kepada seribu bintang sampaikan salamku kepadanya
       Hanya dia  hanyalah dirinya yang aku cinta
Sayup-sayup terdengar lantunan lagu “Terangnya Seribu Bintang” lagu merdu dari Sultan. Mengalun syahdu disertai alunan nada gitar yang mengiris hati dari seorang Jack yang menikmati malam kesendirian. Jack berhenti sejenak menghirup segelas kopi pekat yang mulai berasa pahit karena penuh dengan remah-remahnya saja. Setelah itu Jack menyulut sebatang rokok. Terlihat dia sangat menikmati suasan malam itu. 
Sejenak hening. Hanya suara bunyian malam yang terdengar manja di telinganya. Ya dalam keheningan Jack mengingat masa-masa lampau yang sangat sulit untuk ia lupakan. Tak mampu juga untuk diungkapkan dengan kata-kata, hanya mampu ia ungkapkan lewat alunan lagu “Terangnya Seribu Bintang”. 
Masih jelas berasa diingatan Jack masa 5 tahun silam. Masa sangat bahagia penuh suka dan duka bersama Nia. Ya Nia, seorang mahasiswi cantik nan mempesona teman kuliah Jack ya mulanya hanya teman kuliahan saja. Jack terbayang akan beberapa kejadian yang tak kan terlupakan bersama Nia. Bagaimana mereka mengerjakan tugas bersama, saling membantu pada saat ujian semester, maupun kenangan di mana ketika Jack akhirnya memilih meninggalkan semuanya.
**********
Mulanya siang itu, Jack dengan penuh semangat mengikuti sebuah mata kuliah. Ia duduk paling depan. Entah semangat apa yang membuatnya memberanikan diri untuk duduk di bangku paling depan, padahal biasanya Jack mencari tempat yang aman dari pandangan dosen apalagi dosen killer. Ketika duduk secara tidak sengaja Nia yang duduk di samping Jack menjatuh DHK (Daftar Hadir Kuliah) dan hendak mengambil DHK tersebut di bawa kursi dekat Jack. Nia hendak mengambil DHK dan secara Refleks Jack pun hendak mengambil DHK tersebut untuk Nia. Mereka berhadapan bertatap muka. Diam sejenak.
“Hmmmm” terdengar suara dosen mendehem.
Jack dan Nia secara refleks kembali ke tempat duduk masing-masing. 
Semenjak itulah Jack dan Nia mulai terlihat akrab. Di mana ada Nia di situ ada Jack. Istilahnya seperti parasit (kampret bener Si Jack).
**********
Jack kembali menghirup kopi pahit dari gelasnya, menghidupkan kembali rokoknya. Jack kemudian tersenyum sendiri. tersenyum dalam duka. Jack sejenak menghembuskan nafas. Ia teringat kembali sebuah peristiwa di malam itu ketika dia berkunjung ke rumah Nia dengan alasan membantu mengerjakan tugas untuk Nia. Padahal mereka bercerita penuh suka dalam bilik kamar ya hanya mereka berdua.
**********
Sore itu Nia mengajak Jack untuk membantu mengetikan makalahnya. Sekitar pukul 6 sore Jack pun berangkat dengan motor kebanggannya menuju rumah Nia. Setelah mengendarai kendaran sekitar 30 menit sampailah Jack ke rumah Nia.
“Hai”, sapa Jack.
“Hai juga, silahkan masuk”, Sapa Nia dengan senyuman manis disertai lesung pipitnya.
“Silahkan duduk dulu”, ujar Nia. Mau minum apa?
“Apa saja lah yang penting halal”, sahut Jack.
Keduanya tersenyum.
“Sungguh indah senyumanmu", gumam Jack dalam hati.
“Oke deh”, lanjut Nia berlalu menuju dapur rumahnya.
Singkat cerita, malam itu mereka mengerjakan makalah Nia dengan penuh suka. Sebenarnya malam itu adalah malam minggu. Dan secara tak sengaja Jack bertanya kepada Nia.
“Ini kan malam minggu, memang kamu tidak jalan sama pacarmu ya”.
“Pacarku sedang pergi”, sahut Nia ketus.
Jack melirik ke arah Nia. Ia melihat mata Nia berkaca, ya itu ada air mata di sana.
Jack paham ada sesuatu yang terjadi di sana, tapi entah apa? Jack hanya diam kemudian kembali melanjutkan ketikannya. 
Hening di kamar itu.
*********
“Jack, Jack masuk sudah malam”, terdengar teriakan dari dalam rumah.
Teriakan yang membuyarkan kenangan manis Jack. 
“Iya mama, sebentar lagi”, teriak Jack dari teras rumahnya.
Jack kembali tersenyum dan kembali memainkan gitarnya.
       
       Terangnya seribu bintang takkan sanggup menyinari hatiku
       Yang kuinginkan hanya dirimu cinta sejatiku
       Kepada seribu bintang sampaikan salamku kepadanya
       Hanya dia  hanyalah dirinya yang aku cinta
Malam terus berlanjut. Jack menghabiskan malam itu dengan berbagai kenangan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Alunan suara gitar dipadukan lagu “Terangnya Seribu Bintang” masih berlanjut. Jack seakan ingin kembali ke masa 5 tahun silam. Walau tinggal kenangan namun tak akan terlupakan. 
**********

Sabtu, 12 Oktober 2013

Puisi Malam

Gelap Malam Merindu

Oleh: Bastian Arisandi


Ku tiup gundah gulana
Seroja mekar tak berdosa
Ku kecup ku rasa
Indah sungguh menggoda

Sekilas mata sendu nan sayu
Ku ruba ku rasa semu
Bertopang syahdu pada bayangmu
Sakit sakit tak bertemu

Tengok kanan tengok kiri
Sepi tak ada yang menemani
Hati semakin lemah tak daya berdiri
Biar lah gundah sepi ku di sini
Menanti



WisudaKu dan WisudaMu

Jika Berusaha Wisuda Tak Tertunda

     
  W-I-S-U-D-A hanya enam ya banyangkan hanya enam huruf tapi untuk meraih itu perlu perjuangan yang berdarah-darah dan mengharu biru. Kalo tak percaya di coba mbak dan mas di coba. Walaupun ada yang mudah mencapai kata WISUDA ya paling berbau keberuntungan.
          Wisuda adalah proses pemindahan pita pada toga dari sebelah kiri ke sebelah kanan yang dilakukan oleh rektor, direktur maupun kepala perguruan tinggi lainnya. Ya kalo udah WISUDA sah dong ya sarjananya. Tos kita tos. Oiya WISUDA yang beneran khusus untuk mahasiswa lho. Kalo untuk anak TK, SD itu mah wisuda-wisudaan.


Foto-foto di samping merupakan foto admin ketika akhirnya WISUDA. Kerenkan hohohoo. Berkat usaha dan kerja keras akhirnya admin WISUDA juga. Wisuda nya sih emang tidak seberapa namun perjuangan di balik semuanya itu berasa luar biasa. Sampai-sampai mau meneteskan air mata.

Yang belum WISUDA santai aja bro santai. "Wisuda itu pasti hanya jarak yang memisahkan kita" #NenggakBaygon. Berusaha dan terus berusaha maka wisuda menanti di depan mata. Ya betul sih tak cukup hanya berusaha tapi perlu juga berdoa. Keep Smile!


Rabu, 09 Oktober 2013

Baiknya "PEKA" buruknya "PK"

“PEKA”
P-E-K-A yang hanya empat huruf tapi penuh makna dan merupakan gerbang menuju masa depan yang gemilang. Secara Harafiah “PEKA” berarti mudah merasa, tidak lalai (KBBI Online). Menuju masa depan yang gemilang hanya dengan “PEKA” bagaimana bisa? Eits tungu dulu tunggu dulu. Jernihkan pikiran anda, hirup dan hembuskan nafas sejenak kemudian baca perlahan-lahan bacaan ini. Good luck bro!
Yup “PEKA” yang dimaksud tentu saja jauh artian dengan “PK”. Memang kalau diucapkan dengan cepat akan terdengar sama. Tapi PK (Penjahat Kelamin) tentu saja artian negative. Nah “PEKA” di sini adalah adanya perasaan mudah merasa serta tidak lalai. Orang yang “PEKA” berarti orang yang mudah merasa apapun yang ada di lingkungannya serta tidak lalai jika diberikan tanggung jawab. Di era modern sekarang ini banyak hal yang berhubungan dengan ke-PEKA-an ini. Misalkan kalo ada seseorang yang menyukai anda dengan menampilkan ‘kode-kodeannya’, disitulah “PEKA” ini tampil untuk anda. Atau misalkan lagi ketika pasangan anda menampilkan foto dirinya bersama bayi entah itu di FB atau twitter maupun jejaring sosial lainnya, disitulah “PEKA” kembali beraksi. Apakah sudah jelas?
Dalam dunia perkuliahan “PEKA” lebih menunjuk pada makna kata “tidak lalai”. Mengapa demikian? Pertama, mahasiswa harus “PEKA” ketika dosen menginginkan anda membantu mengetik ke rumahnya. Maaf di sini tentu saja bukan maksudnya dosen tersebut jatuh cinta pada anda. Itu jauh melenceng. Makna yang tepat tentu saja dosen menginginkan anda memperlihatkan ke-PEKA-an anda tadi dengan tidak lalai bertanggung jawab. Kedua, ketika bimbingan skripsi diharapkan mahasiswa “PEKA”. Saya katakan sekali lagi “PEKA”. Mengapa? karena sekali saja anda tidak “PEKA” dengan skripsi anda semakin banyak junior bermunculan di bawah anda.

“PEKA”-nya mahasiswa yang sedang skripsian tentu saja erat hubungannya dengan kata “WISUDA” dan “SARJANA”. Setelah membahas “PEKA” selanjutnya kita akan membahas “WISUDA” dan “SARJANA”. Tunggu postingan selanjutnya. See U….

Cerpen Sederhana

Kisah Cinta yang Berawal dari Perang Lagu

Sore itu terdengar suara musik sebuah lagu yang sangat memekakan telinga Esi. Ia pun terbangun mengucak matanya  sejenak dan kemudian mencari sumber suara musik yang memekakan telinga tadi. Esi mencari sumber suara ke berbagai penjuru desa itu. Mulai dari rumah paling ujung tidak ada suara apa-apa, rumah di samping kanan dan kiri juga tidak terdengar suara apa-apa. Mata Esi pun tertuju ke depan rumahnya. Dan betul saja ya sumber suara musik yang sangat keras tersebut adalah berasal dari depan rumah mereka.
Esi pun berkecamuk, ia kesal karena suara musik tadi membangunkan dari tidur siangnya.
“Sungguh tetangga yang tak bisa mengerti keadaan sesama” sungut Esi sambil menuju DVD player di sudut kamarnya.
“Rasakan ini jerit Esi!”.
Tak berapa lama kemudian suara lagu dari kamarnya mulai menghentakkan seluruh ruangan kamar. Tidak ada hanya itu suara lagu dari DVD playernya juga menghentak sampai ke rumah tetangga yang berada di depan rumahnya.
“Huh, rasakan pembalasanku”, teriak Esi.
Tak berapa lama kemudian muncul seorang pemuda melihat dari jendela kamarnya. Pemuda tersebut nampaknya mulai merasa terganggu dengan suara lagu dari rumah Esi. Ia memperhatikan sejenak lalu dengan tak mau kalah saing pemuda tersebut membesarkan volume suara musik dari rumahnya juga.
Sungguh sebuah perang suara musik yang sangat membingunkan!Yanto ya Yanto nama pemuda tersebut memperdengarkan lagu-lagu hard rocknya, sedangkan Esi dengan lagu-lagu romantisnya. Perang terus berlanjut hingga beberapa waktu terlewatkan. Baik Yanto maupun Esi tidak ada yang mau mengalah dalam memperdengarkan suara lagu dari kamar mereka masing-masing.
Hingga tibalah waktu itu. Yanto kembali menyetel suara lagu-lagu hard rocknya dengan suara full hingga menggetarkan rumah-rumah lainnya. Apa yang terjadi? Dua buah lagu terlewatkan, tidak ada balasan dari kamar Esi. Empat lagu berselang dari kamar Esi pun masih tidak terdengar apa-apa. Yanto mulai merasa ada yang hilang. Diam-diam dia merindukan balasan lagu romantic yang sering diperdengarkan Esi.
“Ach bosan”, gumam Yanto.
Dengan segera ia pun mengecilkan volume suara DVD-nya dan tertegun sejenak memandang dari jendela kamarnya ke arah kamar Esi di seberang sana. Ia tidak melihat apa-apa. Tatapan matanya kosong.
“Esi kamu kemana? Kenapa baru sekarang kurindu suara alunan lagu dari kamarmu?” keluhnya.
 Semenjak itu ada perubahan yang mencolok dari Yanto. Dari kamarnya tidak lagi terdengar lagu-lagu hard rock yang memekakan telingan namun mulai terdengar lagu-lagu romantis. Mulai dari lagu Adista, lagu Noah hingga lagu-lagu Westlife. Perubahan yang sangat signifikan.
Singkat cerita Yanto mulai jatuh cinta pada Esi. Ia terus mencari penyebab hilangnya Esi yang secara tiba-tiba itu. Setelah mencari dan terus mencari, rupanya Esi harus menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Kota Cidayu. Yanto mulai gelisah, dalam benaknya ia tidak mau kehilangan seorang lawan beratnya dalam perang lagu. Ia merindukan Esi yang selalu mengoloknya dari jendela kamarnya. Yanto merindukan ekspresi-ekspresi yang ditunjukkan Esi ketika mereka sedang perang lagu.
Sungguh menyesakan dada!
Senja itu, Esi sedang bersantai di kamarnya. Setelah bangun dari tidur siangnya ia pun mulai merasa ada yang berbeda. Esi merasa kok tumben-tumbennya hingga sesenja ini tidak terdengar sedikitpun lagu hard rock dari depan rumahnya tepatnya dari kamar Yanto. Sejenak ia memandang dari kamarnya. Terlihat kamar Yanto sepi-sepi saja.
“Pemandangan yang indah”
“Aku menang”, gumam Esi.
Beberapa hari kemudian setiap Esi bangun tidur siang ia mulai merasa aneh. Ia merasa ada yang kurang. Ia merasa tak terdengar lagi lagu-lagu yang mengganggu dari seberang rumahnya. Ia merasa mulai kesepian. Ia merasa kecewa. Ada rasa inginnya untuk berperang lagu lagi melawan Yanto. Namun apa yang telah terjadi? Esi bingung. Esi merasa.
“Ke mana Yanto?”, keluhnya. “Aku merindukan hentakan lagu hard rock mu”, lanjutnya lagi. Sepi sungguh sepi!
Selang berlalu.

Sore itu, lantunan lagu “Hampa” dari Ari Lasso terdengar merdu di telinga Esi. Ia pun kebingungan dan terhenyak langsung mencari-cari arah suara lagu tersebut. “Siapa ya yang menghidupkan lagu kesayanganku ini” pikir Esi. Ia memandang keluar dan….
OMG! Itu berasal dari rumah Yanto! Esi pun terperanjat.
Ia kaget dan tertegun bagaikan tersentak dari lamunan beribu tahun. Indah sekali lantunan lagu itu. Tapi yang lebih mengharukan itu berasal dari kamar Yanto. “Ada apa gerangan”, seru Esi. Seakan tidak percaya ia melirik dari jendela kamarnya ke arah kamar Yanto. Apa yang terlihat di seberang sana! Itu tidak kalah mengharukan. Ya….
“KITA DAMAI”
Dua kata yang terlihat dari kaca jendela kamar Yanto sangat jelas terbaca oleh Esi. Hanya dua kata tapi penuh makna. Hanya dua kata tapi beribu cerita. Ya hanya dua kata dan semuanya akan berawal dari sana. Bersambung….



Senin, 07 Oktober 2013

Cultural Values Of Sabunzu Sarokng Antu

ABSTRACT


Arisandi, Bastian. 2012. Cultural Values ​​in The Story Of Sabunzu  Sarokng Antu Oral Literature Of District Dayak Simpakng Simpang Dua Ketapang. Language and Art Education Majors. Education Studies Program Language and Literature Indonesia. Faculty of Teacher Training and Education University Tanjungpura Pontianak. (First supervisor Dr. H. Martono, and counselors both Drs. Laurensius Salem, M.Pd).
The background of this research came from concern over Sabunzu Sarokng Antu story that despite being transcribed and documented but no deeper study on this story for more than 16 years. This study aimed to general description of cultural values ​​in the story Sabunzu Sarokng Dayak oral literature Simpakng Antu District Simpang Dua Ketapang. The research was conducted using qualitative methods desktriptif. The approach used in this study is a sociological approach to literature. Sources of data in this study are transcribed  story Sabunzu Sarokng Antu team from the Institute Dayakologi (ID). This study used direct observation techniques, interview techniques and documentary study technique. Data collection tool that recording devices such as MP3, Camera Handy Camp, and a special note. Based on the results of data analysis, the study produced the following conclusions. (1) The value of man's relationship with the culture of the human religion trust and use amulets, people trust and use magical powers, as well as the people believe and ask for help his buddies. (2) The value of man's relationship to human culture that is confident, mutual help, love, and mutual assistance. (3) The cultural value of human relationships with nature are subject to human nature, human nature and the human desire to utilize natural master.


Keywords: culture, folklore.

CeritaKu mana CeritaMu

Nuansa Cinta Awal yang Tak Terduga

Pagi itu Ari bangun agak awal, ia penuh semangat pagi itu. Setelah merapikan tempat tidurnya Ari dengan tergesa-gesa mandi. Sambil bernyanyi riang ia senandung ria di dalam kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian rapi Ari langsung mengendarai Satria F Si Merah kebanggaannya menuju Persekolahan. Bukan Ari bukan siswa, ia merupakan seorang guru ya seorang guru muda nan tampan. Sejujurnya saking tampannya Si Ari pernah beberapa siswa cewek meng-invite-kan PIN BBnya.


Pagi itu entah apa yang ada di pikiran Ari, ia begitu bahagia. Yup sangat, sangat bahagia. Saking bahagianya tampak dari raut mukanya yang penuh senyuman. Manis ya senyuman yang manis. Saking manisnya ada siswa yang diam-diam suka padanya. Ya siswanya ckckck...

Kisah berawal dari teman Ari yang baru selesai PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) di sebuah SMP. Di kota Pontianak. Pak Ray ya Pak Ray itu lah siswa-siswa sering menamakannya. Hari itu Pak Ray ini menulis sebuah status di FB, ya wajar sebagai guru yang masih labil Pak Ray ini hobi juga dengan dunia maya semisal FB dan twitter. Status Pak Ray di komen oleh siswanya sebut saja Elsa. Hmmmm ya Elsa nama yang indah tapi tak seindah nama gurunya (Pak Ray; red). 

Minggu, 14 Juli 2013

Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran Bahasa Indonesia

A. Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran
1. Pengertian Pendekatan
Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah pendekatan, metode, dan
teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan dengan pengertian yang
sama; artinya, orang menggunakan istilah pendekatan dengan pengertian yang sama
dengan pengertian metode, dan sebaliknya menggunakan istilah metode dengan
pengertian yang sama dengan pendekatan; demikian pula dengan istilah teknik dan
metode.
Sebenarnya, ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang berbeda, walaupun
dalam penerapannya ketiga-tiganya saling berkaitan. Tentang hal ini, Ramelan (1982)
mengutip pendapat Anthony yang mengatakan bahwa pendekatan ini mengacu pada
seperangkat asumsi yang saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa, serta
pengajaran bahasa. Pendekatan merupakan dasar teoretis untuk suatu metode. Asumsi
tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahasa sebagai
kebiasaan; ada pula yang menganggap bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang
pada dasarnya dilisankan; dan ada lagi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat
kaidah, norma, dan aturan.
Asumsi-asumsi tersebut menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang
berbeda, yakni:
(1) Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha
membiasakan dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tekanannya pada
pembiasaan.
(2) Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa, berarti berusaha
untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan. Tekanan
pembelajarannya pada pemerolehan kemampuan berbicara.
(3) Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa dalam pembelajaran bahasa, yang harus
diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran, tekanan
pembelajaran pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan
bahasa.
2. Berbagai Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa
Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran bahasa antara lain
ialah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Kemudian menyusul pendekatanpendekatan yang dipandang lebih sesuai dengan hakikat dan fungsi bahasa, yakni
pendekatan komunikatif.
a. Pendekatan Tujuan2
Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan
belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang
hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan
metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang
diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses belajar mengajar
ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan itu sendiri.
Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa kurikulum disusun berdasarkan
suatu pendekatan. Seperti kita ketahui, Kurikulum 1975 merupakan kurikulum yang
berorientasi pada pendekatan tujuan. Sejalan dengan hal itu maka bidang-bidang studi
pun orientasinya pada pendekatan tujuan; demikian pula bidang studi Bahasa Indonesia.
Oleh karena orientasinya pada tujuan, maka pembelajarannya pun penekanannya pada
tercapainya tujuan. Misalnya, untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang
ditetapkan ialah "Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau
informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada pendekatan tujuan, maka yang penting
ialah tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan mengarang. Adapun
mengenai bagaimana proses pembelajarannya, bagaimana metodenya, bagaimana teknik
pembelajarannya tidak merupakan masalah penting.
Demikian pula kalau yang diajarkan pokok bahasan struktur, dengan tujuan
"Siswa memiliki pemahaman mengenai bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia". Tujuan
tersebut dapat dicapai melalui pembelajaran morfologi bahasa Indonesia.
Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan "cara belajar tuntas".
Dengan "cara belajar tuntas", berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil
apabila sedikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai
minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penentuan keberhasilan itu
didasarkan hasil tes sumatif; jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa dapat
mengerjakan atau dapat menjawab dengan benar minimal 75% dari soal yang diberikan
oleh guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.
b. Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran
bahasa, yang dilandasi oleh asumsi bahwa bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma,
dan aturan. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa
harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu,
pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang
tercakup dalam fonologi, morfologi, dan sintaksis dalam hal ini pengetahuan tentang
pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Jelas bahwa aspek
kognitif bahasa lebih diutamakan.
Di samping kelemahan, pendekatan ini juga memiliki kelebihan. Dengan
pedekatan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena
mereka memahami kaidah-kaidahnya. Misalnya saja, mereka mungkin tidak akan
membuat kesalahan seperti di bawah ini.
"Bajunya anak itu baru".
"Di sekolahan kami mengadakan pertandingan sepak bola".
"Anak-anak itu lari-lari di halaman".
c. Pendekatan Komunikatif 3
Pada bagian terdahulu sudah dikemukakan bahwa pandangan tentang bahasa dan
pembelajaran bahasa selalu mengalami perubahan, sejalan dengan perkembangan pola
pikir masyarakat. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, akhir-akhir
ini sedang digalakkan penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa
kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus
dicapai dalam pembelajaran bahasa. Tampak bahwa bahasa tidak hanya dipandang
sebagai seperangkat kaidah tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk
berkomunikasi. Ini berarti, bahasa ditempatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi
komunikatif. Menurut Littlewood (1981) pemikiran pendekatan komunikatif
didasarkan pada pemikiran bahwa:
(1) Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas tentang
bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak
terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi komunikatif
bahasa.
(2) Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam
pembelajaran bahasa. Hal itu menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan bahasa.
tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk-bentuk bahasa
asing, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentukbentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam
situasi dan waktu yang tepat.
Sehubungan dengan pendapat itu, dia mengemukakan beberapa alternatif
teknik pembelajaran bahasa. Dalam kegiatan belajar mengajar, kepada siswa
diberikan latihan, antara lain seperti di bawah ini.
(1) Memberikan informasi secara terbatas
Contoh:
(a) Mengidentifikasi gambar
Dua orang siswa ditugasi mengadakan percakapan (bertanya jawab)
tentang benda-benda yang terdapat di dalam gambar yang disediakan
oleh guru. Pertanyaan dapat mengenai warna, jumlah, bentuk, dan
sebagainya.
(b) Menemukan/mencari pasangan yang cocok
Guru memberikan gambar kepada sekelompok siswa yang masingmasing mendapat sebuah gambar yang berbeda. Seorang siswa yang lain
(di luar kelompok) diberi duplikat salah satu gambar yang telah dibagikan.
Siswa ini harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada temantemannya yang membawa gambar, dengan tujuan untuk mengetahui
identifikasi atau ciri-ciri gambar yang mereka bawa. Dari hasil tanya jawab
itu siswa (pembawa duplikat) tersebut harus dapat menemukan siapa di
antara teman-temannya itu yang membawa gambar yang cocok dengan
duplikat yang dibawanya.
(c) Menemukan informasi yang ditiadakan
Guru memberikan informasi tetapi ada bagian-bagian yang sengaja ditiadakan.
Siswa ditugasi mencari atau menemukan bagian yang tidak ada itu. Kemudian
A mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada B, sehingga is (A) dapat
mengetahui gambar yang mana yang tidak ada pada gambar milik B.4
2) Memberikan informasi tanpa dibatasi bebas (tak terbatas)
Contoh:
(a) Mengomunikasikan contoh dan gambar
Siswa A membawa sebuah model bentuk-bentuk yang diatur/disusun ke
dalam (menjadi) sebuah contoh. Siswa B juga membawa bentuk-bentuk yang
sama. Mereka, A dan B, harus saling memberikan informasi sehingga B
dapat mengetahui contoh yang ada pada A dengan setepat-tepatnya.
(b) Menemukan perbedaan
Siswa A dan B masing-masing mempunyai sebuah gambar yang sama,
kecuali beberapa bagian. Para siswa harus mendiskusikan gambar
tersebut sehingga menemukan perbedaannya.
(c) Menyusun kembali bagian-bagian cerita
Sebuah gambar cerita (tanpa dialog) dipotong-potong. Setiap anggota
kelompok memegang satu bagian tanpa mengetahui bagian gambar yang
dipegang oleh yang lain; kelompok itu harus menentukan urutan aslinya,
dan menyusun kembali cerita itu.
(3) Mengumpulkan informasi untuk memecahkan masalah
Contoh:
Siswa mempunyai rencana akan mengunjungi sebuah kota yang menarik. B
mempunyai daftar/jadwal bus. Mereka harus merencanakan perjalanan yang akan
dilakukan yang memungkinkan mereka untuk mengunjungi beberapa tempat
(misalnya 5 tempat) dalam satu hari, dan menggunakan waktu sekurangkurangnya setengah jam untuk tiap tempat. Siswa harus memilih tempat yang
paling menarik bagi mereka.
(4) Menyusun informasi
Contoh:
Siswa diminta membayangkan bahwa mereka akan mengadakan "camping"
(berkemah) gunung selama tiga hari. Tiap anggota hanya boleh membawa barang
kira-kira seberat 11 kg. Kelompok-kelompok itu harus menentukan apa saja yang
akan mereka bawa, dengan melihat daftar barang yang patut dibawa, yang
diberikan oleh guru, dan mempersiapkan pembelaan apabila mereka ditentang
oleh kelompok lain.
Latihan-latihan tersebut merupakan latihan penggunaan bahasa dalam aktivitas
komunikasi yang bersifat fungsional di dalam kelas. Di samping itu, juga terdapat tipe
aktivitas komunikatif yang lain, yakni aktivitas interaksi sosial, interaksi di dalam
masyarakat atau dalam pergaulan. Dalam hal ini latihan yang diberikan kepada siswa
antara lain dapat berupa:
(1) Kelas sebagai konteks sosial
Contoh:
Percakapan atau diskusi.
(2) Simulasi dan bermain peran
Contoh:
(a) Siswa diminta membayangkan dirinya ada di dalam suatu situasi yang dapat
terjadi di luar kelas. Ini dapat saja berupa kejadian yang sederhana, misalnya, 5
bertemu seorang teman di jalan; tetapi dapat pula kejadian yang bersifat kompleks,
seperti negosiasi di dalam bisnis.
(b) Mereka (siswa) diminta memilih peran tertentu dalam suatu situasi. Dalam beberapa
kasus, mungkin mereka berlaku sebagai dirinya sendiri; tetapi dalam kasus-kasus
lain, mungkin mereka harus memperagakan sesuatu di dalam simulasi.
(c) Mereka diminta berbuat seperti kalau situasi itu benar-benar terjadi sesuai dengan
peran mereka masing-masing. Permainan peran ini tidak selalu dalam bentuk
akting tetapi dapat juga dalam bentuk debat atau improvisasi.
3. Metode
Metode pembelajaran bahasa ialah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup
pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta
kemungkinan pengadaan remedi dan bagaimana pengembangannya. Pemilihan,
penentuan, dan penyusunan bahan ajar secara sistematis dimaksudkan agar bahan ajar
tersebut mudah diserap dan dikuasai oleh siswa. Semuanya itu didasarkan pada
pendekatan yang dianut. Melihat hal itu, jelas bahwa suatu metode ditentukan
berdasarkan pendekatan yang dianut; dengan kata lain, pendekatan merupakan dasar
penentu metode yang digunakan.
Metode mencakup pemilihan dan penentuan bahan ajar, penyusunan serta
kemungkinan pengadaan remedi dan pengembangan bahan ajar tersebut. Dalam hal ini,
setelah guru menetapkan tujuan yang hendak dicapai kemudian ia mulai memilih bahan
ajar yang sesuai dengan bahan ajar tersebut. Sesudah itu, guru menentukan hahan ajar
yang telah dipilih itu, yang sekiranya sesuai dengan tingkat usia, tingkat kemampuan,
kebutuhan serta latar belakang lingkungan siswa. Kemudian, bahan ajar tersebut disusun
menurut urutan tingkat kesukaran, yakni dari yang mudah berlanjut pada yang lebih
sukar. Di samping itu, guru merencanakan pula cara mengevaluasi, mengadakan remedi
serta mengembangkan bahan ajar tersebut.
Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di antaranya
adalah:
a) metode tata bahasa/terjemahan
b) metode membaca
c) metode audiolingual
d) metode reseptif/produktif
e) metode langsung
f) metode komunikatif
g) metode integratif
h) metode tematik
i) metode kuantum
j) metode konstruktivistik
k) metode partisipatori
l) metode kontekstual6
4. Teknik
Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah
disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang digunakan
oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses
belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Dalam menentukan
teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertimbangkan situasi kelas, lingkungan, kondisi
siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisi yang lain. Dengan demikian, teknik
pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama
dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai
faktor tersebut.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat yang
dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk memperoleh
hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan,
dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan
menjadi dasar penentuan teknik pembelajaran. Dari suatu pendekatan dapat diterapkan
teknik pembelajaran yang berbeda-beda pula.
Berikut ini adalah teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia.
a. Teknik pembelajaran menyimak
(1) simak-ulang ucap
(2) simak-tulis (dikte)
(3) simak-kerjakan
(4) simak-terka
(5) memperluas kalimat
(6) menyelesaikan cerita
(7) membuat rangkuman
(8) menemukan benda
(9) bisik berantai
(10) melanjutkan cerita
(11) parafrase
(12) kata kunci
b. Teknik pembelajaran berbicara
(1) ulang-ucap
(2) lihat-ucapkan
(3) memerikan
(4) menjawab pertanyaan
(5) bertanya
(6) pertanyaan menggali
(7) melanjutkan
(8) menceritakan kembali
(9) percakapan
(10) parafrase
(11) reka cerita gambar
(12) bermain peran
(13) wawancara
(14) memperlihatkan dan bercerita7
c. Teknik pembelajaran membaca
(1) membaca survei
(2) membaca sekilas
(3) membaca dangkal
(4) membaca nyaring
(5) membaca dalam hati
(6) membaca kritis
(7) membaca teliti
(8) membaca pemahaman
d. Teknik pembelajaran menulis
(1) menyalin kalimat
(2) membuat kalimat
(3) meniru model
(4) menulis cerita dengan gambar berseri
(5) menulis catatan harian
(6) menulis berdasarkan foto
(7) meringkas
(8) parafrase
(9) melengkapi kalimat
(10) menyusun kalimat
(11) mengembangkan kata kunci
B. Model-model Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Model Pembelajaran Terpadu
Dalam pembelajaran bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dilandasi oleh
pemikiran bahwa aspek-aspek bahasa selalu digunakan secara terpadu, tidak pernah
bahasa digunakan secara terpisah, aspek demi aspek.
Pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang menghubungkan aktivitas anak
berinteraksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupannya.
Di kelas-kelas yang lebih tinggi (4—6 sekolah dasar), pada jenjang SMP/MTs,
dan jenjang SMA/MA pembelajaran aspek-aspek keterampilan berbahasa diberikan
secara terpadu (integratif).
Misalnya:
a. Menyimak dan berbicara
Contoh:
Guru menceritakan sebuah peristiwa, siswa menyimak cerita tersebut. Setelah
selesai, siswa diberi waktu sejenak, kemudian guru meminta salah seorang siswa
menceritakan kembali isi cerita itu dengan bahasa (kalimat-kalimat) siswa sendiri
secara ringkas.
Contoh yang lain, guru telah mempersiapkan dua atau tiga orang siswa untuk
mengadakan dialog, dengan rambu-rambu yang diberikan oleh guru. Pada jam yang
telah ditentukan, siswa yang mendapat tugas melakukan dialog di depan kelas;
siswa yang lain menyimak. Setelah selesai, siswa diberi waktu untuk berpikir,
kernudian salah seorang atau dua tiga orang siswa diminta mengemukakan isi
atau kesimpulan dari dialog tersebut secara bergilir, atau dapat juga siswa diminta
memberikan pendapatnya, tanggapannya tentang isi dialog tersebut.8
Untuk siswa SMA, kemungkinan yang lain masih banyak. Dalam hal ini yang
diutamakan ialah kemampuan siswa memahami apa yang mereka simak itu dan
kemampuan mengemukakan pikirannya. Karena yang mendapat kesempatan
berbicara hanya beberapa siswa, yang lain diberi kesempatan untuk menyatakan
pendapatnya mengenai dialog yang dilakukan oleh teman-temannya yang mendapat
kesempatan di depan kelas. Dengan cara-cara tersebut guru memadukan menyimak
dan berbicara.
b. Menyimak dan Menulis
Guru membacakan atau memperdengarkan rekaman sebuah drama atau sebuah
cerpen. Siswa menyimak berapa kali drama/cerpen itu dibaca/diperdengarkan,
bergantung pada tingkat kesukaran drama/cerpen tersebut. Setelah selesai, siswa
diberi waktu untuk menanyakan hal-hal yang tidak mereka mengerti. Sesudah itu
mereka diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan guru tentang drama/cerpen itu,
atau siswa diminta menuliskan isi drama/cerpen secara ringkas dengan kalimat
mereka sendiri.
Dapat juga siswa diminta mendengarkan radio atau televisi pada acara tertentu,
dan diminta membuat laporan hasil simakannya secara tertulis. Dalam hal ini guru
harus jeli, memiliki acara-acara yang mernungkinkan dilaksanakannya tugas
tersebut oleh siswa. Dengan cara-cara di atas, guru memadukan pembelajaran
menyimak dan menulis. Cara yang lain masih cukup banyak.
c. Membaca dan Menyimak
Memadukan pembelajaran membaca dan menyimak tidak sukar.
Contoh:
Siswa diberi tugas membacakan suatu wacana. Dalam hal ini ketentuan-ketentuan
membaca untuk orang lain harus dipahami oleh siswa. Siswa yang lain menyimak.
Setelah itu, siswa diberikan waktu untuk berpikir, kemudian tugas selanjutnya,
mungkin siswa diminta untuk menceritakan isi yang disimak secara lisan atau
mungkin tertulis. Dalam hal ini, agar yang mendapat giliran membaca tidak
sedikit, naskah yang dibaca sebaiknya naskah-naskah yang pendek, seperti:
informasi singkat, pengumuman, perintah, dan sebagainya. Dengan cara-cara
tersebut, guru memadukan membaca dan menyimak.
d. Membaca dan Menulis
Contoh:
Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca cerita atau tulisan-tulisan
yang lain di luar kelas, dan meminta kepada mereka untuk menuliskan ringkasan
hasil bacaan masing-masing. Setelah mereka menuliskan ringkasan tersebut,
guru dapat meminta kepada siswa untuk mengumpulkan hasil pekerjaan mereka,
atau dapat juga sebelum mereka mengumpulkan, beberapa siswa diberi giliran
untuk membacakan atau mengemukakan hasil pekerjaan masing-masing.
Dengan cara-cara itu terjadi pemaduan antara membaca, menulis, dan bercerita.
e. Menulis dan Bercerita
Contoh:9
Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat karangan di luar kelas.
Pada jam yang telah ditentukan, siswa menceritakan isi karangannya, sebelum
karangan itu dikumpulkan.
Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing beranggotakan
tiga atau empat orang. Tiap kelompok diberi tugas merencanakan dan
menuliskan sebuah adegan yang diperankan. Pada jam yang telah disepakati
bersama, sebelum naskah diserahkan kepada guru, tiap kelompok diminta
memperagakan apa yang telah mereka rencanakan dan mereka tulis. Cara lain
masih banyak.
Pembelajaran kosakata selalu dipadukan dengan keterampilan berbahasa.
Untuk mengajarkan makna kata (kata-kata baru), digunakan sebuah wacana yang
memuat kata-kata yang akan diajarkan. Siswa diminta membaca wacana itu di dalam
hati, kemudian diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan- pertanyaan.
Setelah itu kata-kata yang disiapkan untuk diajarkan dibicarakan atau
didiskusikan maknanya, sinonimnya (kalau ada), dan sebagainya. Kemudian siswa
diminta menggunakan kata-kata tersebut dalam kalimat secara tertulis. Dapat juga
guru menggunakan kata-kata baru di dalam wacana untuk dikte.
Pembelajaran struktur juga dipadukan dengan semua keterampilan. Dengan
cara-cara seperti contoh di atas, dapat dilakukan pemaduan antara pembelajaran
struktur dengan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Cara yang lain dapat
juga dengan teknik klos.
Pemaduan bahasa dengan bidang studi yang lain seperti IPA, IPS, dapat
dilakukan dengan jalan menggunakan naskah atau tulisan tentang bidang studi yang
dimaksud sebagai bahan bacaan. Atau dapat juga siswa ditugasi mengarang tentang
sesuatu yang berkaitan dengan bidang studi dimaksud.
Kaitan pembelajaran bahasa dengan bidang studi yang lain dapat dilakukan
dalam hal: kosakata, struktur, menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Dengan
kata lain, semua aspek bahasa dapat dipadukan dengan bidang studi yang lain.
Itulah beberapa contoh pemaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Dalam pembelajaran bahasa ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
(1) Pembelajaran kosakata dan struktur harus selalu di dalam konteks. Artinya, kata-kata
atau struktur yang diajarkan tidak lepas dari konteks kalimat atau wacana.
(2) Setiap aspek dalam bahasa diajarkan dengan memperhatikan tema yang telah
digariskan dalam silabus. Dengan mengacu pada tema, sebenarnya telah terjadi
pemaduan dengan bidang studi yang lain atau terjadi lintas bidang studi.
(3) Setiap kali pembelajaran selalu diawali dengan pengarahan yang jelas.
(4) Pembelajaran yang direncanakan dengan baik akan memberikan hasil yang lebih
baik.
2. Model Pembelajaran Tematik
a. Pengertian
Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan
beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa.
Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek
kurikulum, dan aspek belajar mengajar. Pembelajaran tematik hanya diajarkan pada 10
siswa sekolah dasar kelas rendah (1—3), karena pada umumnya mereka melihat segala
sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik), perkembangan fisiknya tidak pernah
dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional.
b. Strategi Pembelajaran Tematik
Strategi pembelajaran tematik lebih mengutamakan pengalaman belajar siswa,
misalnya, sebagai berikut.
1) Bersahabat, menyenangkan, tetapi tetap bermakna bagi siswa.
2) Dalam menanamkan konsep atau pengetahuan dan keterampilan, siswa tidak harus
di-drill, tetapi ia belajar melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya
dengan konsep lain yang sudah dipahami. Bentuk pembelajaran ini dikenal dengan
pembelajaran terpadu dan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan siswa.
c. Ciri-ciri Pembelajaran Tematik
Sesuai dengan perkembangan fisik dan mental siswa sekolah dasar, pembelajaran
pada tahap ini harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1) Berpusat pada siswa.
2) Memberikan pengalaman langsung pada siswa.
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
5) Bersifat fleksibel.
6) Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
d. Keunggulan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki kekuatan/keunggulan, di antaranya sebagai berikut.
1) Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan
kebutuhan siswa.
2) Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.
3) Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.
4) Mengembangkan keterampilan berpikir siswa dengan permasalahan yang dihadapi.
5) Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan
tanggap terhadap gagasan orang lain.
e. Peran Tema
1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu.
2) Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi
mata pelajaran dalam tema yang sama.
3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
4) Kompetensi berbahasa dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata
pelajaran lain dan pengalaman pribadi siswa.
5) Siswa lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam
konteks tema yang jelas.
6) Siswa lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi
yang nyata, misalnya, bertanya, bercerita, menulis deskripsi, menulis surat, dan 11
sebagainya untuk mengembangkan keterampilan berbahasa, sekaligus untuk
mempelajari mata pelajaran lain.
7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu
dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali pertemuan. Waktu
selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
f. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembelajaran Tematik
1) Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
menjadi lebih bermakna dan utuh.
2) Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik perlu dipertimbangkan antara lain alokasi
waktu setiap tema, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di
lingkungan.
3) Pilih tema yang terdekat dengan anak.
4) Lebih mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai daripada tema.
g. Langkah-langkah Menyusun Pembelajaran Tematik
1) Pelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata
pelajaran.
2) Pilihlah tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk
setiap kelas dan semester.
Pilihan Tema: Diri Sendiri, Keluarga, Lingkungan, Tempat Umum, Pengalaman,
Budi Pekerti, Kegemaran, Tumbuhan, Hiburan, Binatang, Transportasi, Kesehatan,
K3, Makanan, Pendidikan, Pekerjaan, Peristiwa, Pariwisata, Kejadian Sehari-hari,
Pertanian, Negara, Komunikasi, dsb.
3) Buatlah “Matriks Hubungan Kompetensi Dasar dengan Tema”. Dalam langkah ini
penyusun memperkirakan dan menentukan kompetensi-kompetensi dasar pada
sebuah mata pelajaran yang cocok dikembangkan dengan sebuah tema. Langkah ini
dilakukan untuk semua mata pelajaran.
3. Model Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
(PAKEM/Joyfull Learning)
a. PAKEM adalah strategi pembelajaran yang menciptakan variasi kondisi eksternal dan
internal dengan melibatkan siswa secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
sehingga pembelajaran bermakna.
b. Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan aktivitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan
pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas
sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan
pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan
peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti
menganalisis dan menyintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai
peristiwa belajar, dan menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Pembelajaran 12
aktif memiliki persamaan dengan model pembelajaran self discovery learning,
yakni pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan
kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam model pembelajaran aktif, guru lebih memposisikan dirinya sebagai
fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate of
learning) kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara aktif dan banyak
berperan dalam proses pembelajaran sedangkan guru lebih banyak
memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya
proses pembelajaran.
c. Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru
untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas peserta didik selama
pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi
yang bervariasi, misalnya, kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan
masalah. Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk mampu merangsang
kreativitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir
maupun dalam melakukan suatu tindakkan. Berpikir kreatif selalu dimulai
dengan berpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang
sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kreatif harus
dikembangkan dalam proses pembelajaran, agar peserta didik terbiasa untuk
mengembangkan kreativitasnya.
Pada umumnya berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagai berikut.
Tahap pertama; persiapan, yaitu proses pengumpulan berbagai informasi
untuk diuji. Tahap kedua; inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan
hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut
rasional. Tahap ketiga; iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan
bahwa hipotesis tersebut benar, tepat, dan rasional. Tahap keempat; verifikasi, yaitu
pengujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendari, konsep, atau teori.
Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan
sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dan mewujudkannya
dalam bentuk sebuah hasil karya baru.
d. Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman
baru, dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ke
tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan
melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
pembelajaran. Seluruh peserta didik harus dilibatkan secara penuh agar
bergairah dalam pembelajaran sehingga suasana pembelajaran betul-betul
kondusif, dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi peserta didik.
Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif karena
mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi.
Peserta didik harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan oleh
guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Dalam
pelaksanaannya, hal ini memerlukan proses pertukaran pikiran, diskusi, dan
perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi
standar.
Pembelajaran efektif perlu ditunjang oleh suasana dan lingkungan13
belajar yang memadai. Maka dari itu, guru harus mampu mengelola tempat
belajar dengan baik, mengelola peserta didik, mengelola kegiatan pembelajaran,
mengelola isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar.
e. Pembelajaran menyenangkan (joyfull instruction) merupakan suatu proses
pembelajaran yang di dalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara
pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not
under pressure). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah
adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dalam
proses pembelajaran. Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta
didik, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar
dari peserta didiknya. Hal ini dimungkinkan karena pesatnya perkembangan
teknologi informasi tidak memungkinkan lagi guru untuk mendapatkan
informasi lebih cepat dari peserta didiknya. Dalam hal ini perlu diciptakan
suasana yang demokratis, dan tidak ada beban baik bagi guru maupun
peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran.
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan
guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi
yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat
melibatkan peserta didik secara optimal.
f. Prosedur PAKEM
1) Pemanasan dan apersepsi
Pemanasan dan apersepsi perlu dilakukan untuk menjajagi pengetahuan peserta
didik, memotivasi peserta didik dengan menyajikan materi yang menarik, dan
mendorong mereka untuk mengetahui berbagai hal baru. Pemanasan dan apersepsi ini
dapat dilakukan sebagai berikut.
(a) Mulailah pembelajaran dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta
didik.
(b) Memotivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi
kehidupan mereka.
(c) Gerakkan peserta didik agar tertarik dan bernafsu untuk mengetahui hal-hal yang
baru.
2) Eksplorasi
Tahap eksplorasi merupakan kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan bahan dan
mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Hal tersebut
dapat ditempuh sebagai berikut.
(a) Perkenalkan materi standar dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta
didik;
(b) Kaitkan materi standar dan kompetensi dasar yang baru dengan pengetahuan dan
kompetensi yang sudah dimiliki oleh peserta didik;
(c) Pilihlah metode yang paling tepat, dan gunakan secara bervariasi untuk
meningkatkan penerimaan peserta didik terhadap materi standar dan kompetensi
baru.14
3) Konsolidasi pembelajaran
Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaktifkan peserta didik dalam
pembentukan kompetensi dan mengaitkan kompetensi dengan kehidupan peserta
didik. Konsolidasi pembelajaran ini dapat dilakukan sebagai berikut.
(a) Libatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi
standar dan kompetensi baru;
(b) Libatkan peserta didik secara aktif dalam proses pemecahan masalah (problem
solving), terutama dalam masalah-masalah aktual;
(c) Letakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi standar dan
kompetensi baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan dalam
lingkungan masyarakat;
(d) Pilihlah metodologi yang paling tepat sehingga materi standar dapat diproses
menjadi kompetensi peserta didik.
4) Pembentukan kompetensi, sikap, dan perilaku
Pembentukan kompetensi, sikap, dan perilaku peserta didik dapat dilakukan
sebagai berikut.
(a) Doronglah peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian, dan kompetensi
yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari;
(b) Praktekkan pembelajaran secara langsung agar peserta didik dapat membangun
kompetensi, sikap, dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan
pengertian yang dipelajari;
(c) Gunakan metodologi yang tepat agar terjadi perubahan kompetensi, sikap, dan
perilaku peserta didik.
5) Penilaian
Kegiatan penilaian dapat dilakukan sebagai berikut.
(a) Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik;
(b) Gunakan hasil penilaian tersebut untuk menganalisis kelemahan atau kekurangan
peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam memberikan
kemudahan kepada peserta didik;
(c) Pilihlah metode yang paling tepat sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
C. Alternatif Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia
1. Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)15
o Pembelajaran kooperatif adalah salah satu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di
antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri
atas dua orang atau lebih.
o Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota
kelompok itu sendiri. Dalam pendekatan ini, siswa merupakan bagian dari suatu
sistem kerja sama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar.
o Cooperative learning ini juga memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan
semata-mata harus diperoleh dari guru, melainkan juga bisa juga dari pihak lain
yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya.
o Jadi, keberhasilan belajar dalam pendekatan ini bukan hanya ditentukan oleh
kemampuan individu secara utuh melainkan perolehan itu akan baik jika dilakukan
secara bersama-sama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Beberapa karakteristik pendekatan Cooperative Learning, antara lain:
a. individual accountability, yaitu bahwa setiap individu di dalam kelompok
mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh
kelompok sehingga keberhasilan kelompok sangat ditentukan oleh tanggung jawab
setiap anggota;
b. social skill, meliputi seluruh hidup sosial, kepekaan sosial, dan mendidik siswa
untuk menumbuhkan pengekangan diri dan pengarahan diri demi kepentingan
kelompok. Keterampilan ini mengajarkan siswa untuk belajar memberi dan
menerima, mengambil dan menerima tanggung jawab, menghormati hak orang lain,
dan membentuk kesadaran sosial;
c. positive interdependence adalah sifat yang menunjukkan saling ketergantungan satu
terhadap yang lain di dalam kelompok secara positif. Keberhasilan kelompok sangat
ditentukan oleh peran serta setiap anggota kelompok karena setiap anggota
kelompok dianggap memiliki kontribusi. Jadi, siswa berkolaborasi bukan
berkompetisi;
d. group processing, proses jawaban permasalahan dikerjakan oleh kelompok secara
bersama-sama.
o Perancangan dan pelaksanaan model pembelajaran Cooperative Learning didasari
oleh pemikiran filosofis “Greeting Better Together”, yang berarti untuk
mendapatkan sesuatu yang lebih baik dalam belajar hendaknya dilakukan secara
bersama-sama. Untuk menciptakan “kebersamaan” dalam belajar, guru harus
merancang program pembelajarannya dengan mempertimbangkan aspek
kebersamaan siswa sehingga mampu mengondisikan dan memformulasikan kegiatan
belajar siswa dalam interaksi yang aktif interaktif dalam suasana kebersamaan bukan
saja di dalam kelas melainkan juga di luar lingkungan sekolah.
o Langkah-langkah model pembelajaran Cooperative Learning sebagai berikut:
1) guru merancang pembelajaran, mempertimbangkan, dan menetapkan target
pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Guru juga menetapkan
sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dapat
dikembangkan dan diperlihatkan oleh siswa selama berlangsungnya
pembelajaran. Guru dalam merancang pembelajaran juga harus
mengorganisasikan materi tugas-tugas yang dikerjakan bersama-sama dalam
dimensi kerja kelompok. Untuk memulai pembelajarannya, guru harus 16
menjelaskan tujuan dan sikap serta keterampilan sosial yang ingin dicapai dan
diperlihatkan oleh siswa selama pembelajaran;
2) dalam aplikasi pembelajarannya di kelas, guru merancang lembar observasi
kegiatan siswa dalam belajar secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok
kecil. Dalam menyampaikan materi, pemahaman, dan pendalamannya akan
dilakukan siswa ketika belajar secara bersama-sama dalam kelompok.
Pemahaman dan konsepsi guru terhadap siswa secara individual sangat
menentukan kebersamaan dari kelompok yang terbentuk;
3) dalam melakukan observasi kegiatan siswa, guru mengarahkan dan membimbing
siswa baik secara individual maupun kelompok, dalam pemahaman materi
maupun mengenai sikap dan perilaku siswa selama kegiatan belajar;
4) guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil kerjanya.
Guru juga memberikan beberapa penekanan terhadap nilai, sikap, dan perilaku
sosial yang harus dikembangkan dan dilatihkan kepada para siswa.
o Alasan pembelajaran Cooperative Learning perlu dilaksanakan dengan alasan
sebagai berikut.
1) Terciptanya kehidupan bermasyarakat yang saling”asah-asih-asuh”, rukun,
damai, harmoni tanpa saling curiga merupakan impian semua orang. Bagi
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang masyarakatnya majemuk, isu-isu
SARA mudah sekali digunakan oleh orang atau kelompok yang tidak
bertanggung jawab untuk memecahkan bangsa.
2) Keharmonisan dapat terwujud jika masing-masing mau terbuka, mau mendengar,
dan saling memahami kekurangan serta kelebihan orang lain. Menyadari hal
yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil. Jadi, guru dapat memulainya sejak
anak-anak duduk di sekolah dasar melalui proses pembelajaran.
3) Beberapa manfaat model pembelajaran Cooperative Learning dalam proses
belajar-mengajar antara lain:
(a) dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan,
sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar-mengajar yang bersifat
terbuka dan demokratis;
(b) dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki
oleh siswa;
(c) dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilanketerampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat;
(d) siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi juga sebagai subjek belajar
karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya;
(e) siswa dilatih untuk bekerja sama, karena bukan materi saja yang dipelajari
melainkan juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara
optimal bagi kesuksesan kelompoknya;
(f) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar memperoleh dan
memahami pengetahuan yang dibutuhkan secara langsung sehingga sesuatu
yang dipelajarinya lebih bermakna bagi dirinya.
2. Pembelajaran Keterampilan Proses
Pembelajaran keterampilan proses adalah pembelajaran dengan
mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan sehingga siswa 17
mampu menemukan dan mengembangkan fakta dan konsep serta
menumbuhkembangkan sikap dan nilai. Dengan demikian, keterampilan-keterampilan
itu menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta
pertumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh irama dan gerak atau
tindakan dalam proses belajar mengajar tersebut akan menciptakan kondisi cara belajar
siswa aktif.
Langkah-langkah kegiatan keterampilan proses di antaranya mengobservasi atau
mengamati, termasuk di dalamnya: menghitung, mengukur, mengklasifikasi, mencari
hubungan ruang/waktu, membuat hipotesis, merencanakan penelitian/eksperimen,
mengendalikan variabel, menginterpretasi atau menafsirkan data, menyusun
kesimpulan sementara, meramalkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
3. Pembelajaran Kecakapan Hidup
a. Pengertian kecakapan hidup (Life Skills)
Esensi kecakapan hidup adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya
dan potensinya dalam kehidupan, antara lain mencakup penentuan tujuan, memecahkan
masalah dan hidup bersama orang lain. Kemampuan tersebut akan membantu untuk
hidup dalam lingkungannya dengan sehat serta memiliki perilaku yang produktif.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kecakapan hidup membantu siswa untuk
melindungi dirinya dari berbagai bahaya, bukan hanya obat terlarang melainkan lebih
dari itu untuk mengajarkan dasar-dsar kecakapan hidup untuk memasuki kehidupan
sebagai orang dewasa dengan berhasil (Davis, 2000).
Selain itu, kecakapan hidup dapat diartikan sebagai suatu kecakapan yang dimiliki
seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar
tanpa merasa tertekan, secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi
sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Dalam hidup, di mana pun dan kapan pun orang selalu menemui masalah yang
harus dipecahkan. Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi lima, yaitu :
1) kecakapan mengenal diri (self awareness), yang juga sering disebut kemampuan
personal (personal skills),
2) kecakapan berpikir rasional (thinking skills),
3) kecakapan sosial (social thinking),
4) kecakapan akademik (academic skills), dan
5) kecakapan vokasional (vocasional skills).
Kecakapan mengenal diri (self awareness) mencakup:
1) penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan
warga negara;
2) menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus
menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang
bermanfaat bagi sendiri dan lingkungannya.
Kecakapan berpikir rasional (thinking skills) mencakup :
1) kecakapan komunikasi dengan empati (communication skills),
2) kecakapan bekerja sama (collaboration skills).
Berempati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu
ditekankan karena yang dimaksud berkomunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan 18
melainkan isi dan sampainya pesan disertai dengan kesan baik akan menumbuhkan
hubungan yang harmonis.
Bagi bangsa Indonesia yang bersifat religius, kecakapan hidup (life skills) di atas
masih harus ditambah sebagai panduan, yaitu akhlak. Artinya, kesadaran diri, berpikir
rasional, hubungan interpersonal, kecakapan akademik serta kecakapan vokasional harus
dijiwai oleh akhlak mulia. Akhlak harus menjadi kendali setiap tindakan seseorang. Oleh
karena itu, kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan harus mampu mengembangkan akhlak
mulia tersebut. Di sinilah pentingnya pembentukan jati diri dan kepribadian (character
building) guna menumbuhkembangkan penghayatan nilai-nilai etika, sosial, dan religius
yang merupakan bagian integral dan pendidikan di semua jenis dan jenjang.
Kecakapan akan diperlukan seseorang untuk menghadapi problema bidang khusus
tertentu. Misalnya untuk memecahkan maslah penjualan barang yang tidak laku, tentu
diperlukan keterampilan pemasaran dan seterusnya.
Kecakapan akademik (academic skills), atau kemampuan berpikir ilmiah
(scientific method) mencakup: identifikasi variabel, merumuskan hipotesis, dan
melaksanakan penelitian.
Kecakapan vokasional (vocasional skills), sering disebut keterampilan kejuruan,
artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di
masyarakat. Perlu disadari bahwa di alam kehidupan nyata, antara general life skills
(GLS) dan specific life skills (SLS), antara kecakapan mengenai diri, kecakapan berpikir
rasional, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional tidak
berfungsi secara terpisah-pisah, atau tidak terpisah secara ekslusif. Hal yang terjadi
sebuah tindakan individu dapat melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan
intelektual. Derajat kualitas tindakan individu dalam banyak hal dipengaruhi oleh kualitas
kematangan berbagai aspek pendukung tersebut.
Tujuan Pembelajaran Kecakapan Hidup (Life Skills) bagi siswa
Program life skills didesain agar bermanfaat bagi siswa, memberikan pengetahuan
dan keterampilan yang diperlukan oleh siswa, memberikan pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk meningkatkan tanggung jawabnya dan
untuk mengembangkan potensi sepenuhnya. Tujuan umum pembelajaran life skills bagi
siswa adalah untuk mengembangkan sikap, kemauan, kecakapan manajemen diri,
kecakapan akademik, kecakapan sosial kemasyarakatan dan kecakapan vokasional serta
pengetahuan yang diperlukan untuk memasuki alam pekerjaan dan kehidupannya dalam
masyarakat. Siswa diharapkan mampu mengembangkan kecakapan yang akan
diperlukannya agar dapat berkiprah secara mandiri dalam masyarakat dan memiliki
kemampuan sebaik-baiknya. Tujuan khusus pembelajaran life skills adalah:
1) menyajikan kecakapan berkomunikasi dengan menggunakan berbagai teknik yang
memadai bagi siswa;
2) mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan masyarakat masa kini dan
memenuhi kebutuhan di masa datang;
3) mengembangkan kemampuan membantu diri dan kecakapan hidup agar setiap
siswa dapat mandiri;
4) memperluas pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai sumber-sumber dalam
masyarakat;19
5) mengembangkan kecakapan akademik yang akan mendukung kemandirian setiap
siswa;
6) mengembangkan kecakapan pravokasional dan vokasional dengan memfasilitasi
latihan kerja dan pengalaman kerja di masyarakat;
7) mengembangkan kecakapan untuk memanfaatkan waktu senggang dan melakukan
rekreasi;
8) mengembangkan kecakapan untuk memecahkan masalah untuk membantu siswa
melakukan pengambilan keputusan masa kini dan di masa depan.
Desain Program Kecakapan Hidup (Life Skills)
Pembelajaran dalam program life skills dilaksanakan secara individual atau dalam
kelompok kecil, dengan berlandaskan kebutuhan belajar setiap siswa. Pembelajaran yang
dilaksanakan secara individual terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Fokus pembelajaran life skills adalah:
1) komunikasi,
2) membantu diri sendiri,
3) kehidupan mandiri,
4) kemampuan akademik,
5) kecakapan pravokasional dan vokasional,
6) pemanfaatan waktu luang dan rekreasi,
7) pendidikan jasmani,
8) pemecahan masalah,
9) kecakapan pribadi/sosial, dan
10) kecakapan bermasyarakat.